Marhabaan termasuk seni Islami yang terdapat hampir di tiap daerah di Tatar Sunda. Pada awalnya, pertunjukan marhabaan hanya dapat disaksikan dalam upacara tingkeban, yaitu upacara yang diselenggarakan apabila seorang ibu muda sedang mengandung empat atau tujuh bulan. Maksud dari upacara ini yaitu agar pada kelahiran bayinya nanti tidak ada kendala apa pun baik terhadap bayi maupun Ibunya sendiri.
Selanjutnya, apabila bayi sudah berumur 40 hari, maka akan diadakan syukuran di mana rambut bayi mulai dipotong. Syukuran diadakan dalam acara marhabaan ini. Selain itu, bagi keluarga yang taat dalam beragama, marhabaan pun diselenggarakan dalam peristiwa saat anaknya akan dikhitan atau ketika putrinya akan dinikahkan.
Dalam pelaksanaannya, marhabaan dilakukan oleh beberapa orang pria yang berasal dari lingkungan keluarganya, tetangga bahkan kerabat kaum, yaitu pengelola Mesjid di daerahnya sendiri. Pengurus Dewan Keluarga Mesjid (DKM) setempat sengaja mengundang kelompok pengajian baik pria maupun wanita yang berasal dari luar daerah untuk ikut dalam marhabaan tersebut. Dengan kelompok pengajian tersebut biasanya ada seorang pimpinan yang menjadi imam. Imam tersebut memulai dengan membaca surat tertentu dari Al-Qur’an yang kemudian diikuti oleh kelompok pengajian atau ma’mum.
Dalam marhabaan tersebut dibacakan pula Kitab Barjanji, riwayat Nabi Muhammad SAW sejak dilahirkannya hingga beliau wafat. Adapun tata cara penyelenggaraan marhabaan yaitu sebagai berikut: Pertama-tama tawasul kepada Nabi, para sahabat Nabi, dan karuhun/leluhur, lalu amum dengan mengucapkan al- jannatu wa na’iimuhaa….. dst (kebun, kenikmatan Allah, menggembirakan semua).
Setelah itu, Imam membaca bagian pertama riwayat: Abtadi’ul imlaa-a bismidzatil’ alliyah, mustadirran faidlal baraakati’ alla maa’anaalahu wa aulaah, dst. Kemudian menyebut asma Allah yang Maha Lahir sambil meminta keberkahan dalam membaca cerita ini. Selanjutnya dimulailah membacakan riwayat.
Setelah selesai pembacaan riwayat, kemudian diteruskan dengan mengelilingkan bayi sambil membaca bersama-sama Shalallah Alla Muhammad. Bayi dibawa dari kanan sambil masing-masing yang hadir menggunting rambut bayi secara bergiliran. Hadirin terus-menerus mengucapkan “ya Nabi salam allaika - ya Rasul salam allaika dan anak dibawa kepada Imam yang mulai menggunting pula rambutnya. Imam mengucapkan: Asyrokol badru allaina (Sholawat Badar) dan Ya Habib salam allaika. Setelah selesai kemudian ditutup dengan membacakan doa selamat agar bayi hidup waras.
tulisan di ambil dari :
This entry was posted
on Rabu, 26 Maret 2008
at 00.33
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.

